Makalah PAI PENGAMALAN ASMAUL HUSNA AL-JAAMI’, AL-AKHIR, AL- ADL SISWA DI SEKOLAH

PENDIDKAN SEBAGAI USAHA MEMBENTUK PERILAKU YANG MENCERMINKAN PENGAMALAN ASMAUL HUSNA  AL-JAAMI’, AL-AKHIR, AL- ADL DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
PADA SISWA DI SEKOLAH

BAB I. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Sebagai umat muslim tentunya harus mengikuti semua perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan. Al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad SAW, harus menjadi pedoman kehidupan bagi Umat Muslim di belahan bumi manapun. Pada kenyataannya banyak umat muslim yang mengaku berpedoman dengan Al-Qur’an dan Hadis, berperilaku terbalik dari isi pedoman hidup muslim tersebut. Nama-nama Allah SWT atau Asmaul Husna yang berjumlah 99, sudah mencerminkan betapa luhur dan agungnya Allah SWT. Asmaul Husna sendiri telah termaktub di dalam Al-Qur’an dan Hadist. Asmaul Husna juga merupakan esensi sangat penting untuk umat muslim dalam berperilaku dan wajib berusaha untuk mengaplikasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari sebagai manusia yang berakhlak Mulia. Salah satu usaha agar umat muslim dapat berperilaku baik sesuai Asmaul Husna adalah melalui pendidikan.
Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31, ayat 3 telah menyebutkan, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.” Di samping itu pembetukan karakter dan perilaku terpuji di perkuat dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasla 3 berbunyi “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Kedua landasan konstitusi pendidikan ini berarti bahawa pendidikan adalah cara manusia belajar untuk menjadi manusia yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia. Instansi pendidikan seperti Sekolah mengajarkan agar siswa selalu bertingkah laku yang baik dan terpuji atau karakter mulia melalui mata pelajaran yang tercantum di dalam kurikulum. Beberapa tingkah laku terpuji yang diajarkan di sekolah adalah bagaimana berperilaku adil (Al-Adl), Selalu Kompak dan bergaul dengan cara yang baik (Al-Jaami) dan bijaksana dalam memutuskan sesuatu hal (Al-Hakiim) baik itu berkomunikasi, dan sebagainya.
Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan maka makalah ini mengangkat masalah umum tentang bagaimana aplikasi perilaku siswa yang sesuai dengan 3 dari 99 Asmaul Husna yaitu Husna  Al-Jaami’, Al-Akhir, Al- Adl?

B. Rumusan Masalah
Untuk menghidari pembahasan yang meluas maka masalah umum dari makalah ini dibagi menjadi beberapa masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana aplikasi perilaku Asmaul Husna “Al-Jaami’” siswa ?
2.      Bagaimana aplikasi perilaku Asmaul Husna “Al-Akhir” siswa ?
3.      Bagaimana aplikasi perilaku Asmaul Husna “Al- Adl ” siswa di ?

C. Tujuan Makalah
1.     Makalah ini bertujuan untuk membahas tentang aplikasi perilaku siswa di SMAN 1 Pemangkat yang sesuai dengan 3 dari 99 Asmaul Husna yaitu Husna  Al-Jaami’, Al-Akhir, Al- Adl.
2.   Makalah ini sebagai bentuk pendalaman materi pokok bahasan Asmaul Husna pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam.
3.       Sebagai bentuk penyelesaian tugas dari Mata Pelajaran Agama Islam .

D. Manfaat Makalah
1.      Semoga makalah ini bermanfaat sebagai referensi dalam berperilaku yang baik
2.      Semoga Makalah ini dapat menjadi referensi tugas Pendidikan Agama Islam dengan Tema yang sama bagi pembaca.

E. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam mencari atau mengumpulkan data ini menggunakan metode kepustakaan dan pengamatan. Dimana metode ini pengumpulan data dengan medeskripsikan pengamatan serta dengan cara mengkaji dan menelaah data dari buku dan internet.


BAB II. Kerangka Teori
A. Asmaul Husna
1. Pengertian Asmaul Husna
Asmaul Husna adalah nama-nama yang baik bagi Allah yang jumlahnya adalah 99 nama. Sebagai orang yang beriman, kita selalu dianjurkan untuk menyebut-Nya. Hal ini tertera dalam hadis yang menyebutkan tentang Asmaul Husna berbunyi sebagai berikut.
اِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ اِسْمَامَنْ حَفَظَهَادَخَلَ الْجَنَّةَ وَاِنَّ اللهَ وِتْرٌ وَيُحِبُّ الْوِتْرَ     (رواه ابن ماجه)
Artinya: Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama. Barang siapa menghapalnya (dengan meyakini kebenarannya) ia masuk surga. Sesungguhnya Allah Maha ganjil (tidak genap) dan senang sekali pada sesuatu yang ganjil." (HR Ibnu Majah).
Surah Al lkhlas merupakan sebuah surah dalam Al Quran yang berisi ketegasan dan kesaksian tauhid kepada Allah swt. Di dalamnya sifat keesaan Allah dan beberapa Asmaul Husna-Nya benar-benar menjadi titik sentral. Konsekuensinya adalah bahwa Allah tidak akan menerima dosa yang bernama syirik atau menyekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain. Rasulullah Saw bersabda.
اِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ اِسْمَامَنْ حَفَظَهَادَخَلَ الْجَنَّةَ وَاِنَّ اللهَ وِتْرٌ وَيُحِبُّ الْوِتْرَ     (رواه ابن ماجه)
Artinya: "Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama. Barangsiapa menghafalnya (dengan meyakini akan kebenarannya), is masuk surga. Sesungguhnya Allah itu Mahaganjil (tidak genap) dan senang sekali pada sesuatu yang ganjil."(HR Ibnu Majah).
Adapun Asmaul Husna sebagaimana difirmankan Allah swt. dalam Al Quran dan disabdakan oleh Rasullullah saw. jumlahnya ada 99, yaitu sebagai berikut.
No
Asmaul Husna
Artinya
Ayat Rujukan
1
Ar Rahman
Maha Pemurah
(QS Al Fatihah: 3)
2
Ar Rahim
Maha Pengasih
(QS Al Fatihah: 3)
3
Al Malik
Maharaja
(QS Al Mu'minun: 116)
4
Al Quddus
Mahasuci
(QS Al Jumuah: 1)
5
As Salam
Mahasejahtera
(QS Al Hasyr: 23)
6
Al Mu'min
Maha Terpercaya
(QS Al Hasyr: 23)
7
Al Muhaimin
Maha Memelihara
(QS Al Hasyr: 23)
8
Al `Aziz
Mahaperkasa
(QS Ali Imran: 62)
9
Al Jabbar
Kehendaknya Tak Dapat Diingkari
(QS Al Hasyr: 23)
10
Al Mutakabbir
Memiliki Kebesaran
(QS Al Hasyr: 23)
11
Al Khaliq
Maha Pencipta
(QS Ar Ra'd: 16)
12
Al Bari'
Mengadakan dari Tiada
(QS Al Hasyr: 24)
13
Al Musawwir
Membuat Bentuk
(QS Al Hasyr: 24)
14
Al Gaffar
Maha Pengampun
(QS Al Baqarah: 235)
15
Al Qahhar
Mahaperkasa
(QS Ar Ra'd: 16)
16
Al Wahhab
Maha Pemberi
(QS Ali Imran: 8)
17
Ar Razzaq
Maha Pemberi Rezeki
(QS Az Zariyat: 58)
18
Al Fattah
Maha membuka (hati)
(QS Saba: 26)
19
Al 'Alim
Maha Mengetahui
(QS Al Baqarah: 29)
20
Al Qabid
Maha Pengendali
(QS Al Baqarah: 245)
21
Al Basit
Maha Melapangkan
(QS Ar Ra'd: 35)
22
Al Khafid
Maha Merendahkan
(HR At Turmuzi)
23
Ar Rafi'
Maha Meninggikan
(QS Al An'am: 83)
24
Al Mu'iz
Maha Terhormat
(QS Ali Imran: 26)
25
Al Muzill
Maha Menghinakan
(QS Ali Imran: 26)
26
As Sami'
Maha Mendengar
(QS Al Isra: 1)
27
Al Basir
Maha Melihat
(QS Al Hadid: 4)
28
Al Hakam
Maha Memutuskan Hukum
(QS Al Mu'min: 48)
29
Al `Adl
Maha adil
(QS AI An'am: 115)
30
Al Latif
Maha lembut
(QS Al Mulk: 14)
30
Al Khabir
Maha Mengetahui
(QS Al An'am: 18)
32
Al Halim
Maha Penyantun
(QS Al Baqarah: 235)
33
Al `Azim
Maha agung
(QS Asy Syura: 4)
34
Al Gafur
Maha Pengampun
(QS Ali lmran: 89)
35
Asy Syakur
Maha Menerima Syukur
(QS Fatir: 30)
36
Al `Aliyy
Maha tinggi
(QS An Nisa: 34)
37
Al Kabir
Maha besar
(QS Ar Ra'd: 9)
38
Al Hafiz
Maha Penjaga
(QS Hud: 57)
39
Al Mugit
Maha Pemelihara
(QS An Nisa: 85)
40
Al Hasib
Maha Pembuat Perhitungan
(QS An Nisa: 6)
41
Al Jalil
Maha luhur
(QS Ar Rahman: 27)
42
Al Karim
Maha mulia
(QS An Naml: 40)
43
Ar Raqib
Maha Mengawasi
(QS Al Ahzab: 52)
44
Al Mujib
Maha Mengabulkan
(QS Hud: 61)
45
Al Wasi'
Maha luas
(QS Al Baqarah: 268)
46
Al Hakim
Maha bijaksana
(QS Al An'am: 18)
47
Al Wadud
Maha Mengasihi
(QS Al Buruj: 14)
48
AI Majid
Maha mulia
(QS Al Buruj: 15)
49
Al Ba'is
Maha Membangkitkan
(QS Yasin: 52)
50
Asy Syahid
Maha Menyaksikan
(QS Al Maidah: 117)
51
Al Haqq
Maha benar
(QS Taha: 114)
52
Al Wakil
Maha Pemelihara
(QS Al An'am: 102)
53
Al Qawiyy
Maha kuat
(QS Al Anfal: 52)
54
Al Matin
Maha kokoh
(QS Az Zariyat: 58)
55
Al Waliyy
Maha Melindungi
(QS An Nisa: 45)
56
Al Hamid
Maha Terpuji
(QS An Nisa: 31)
57
Al Muhsi
Maha Menghitung
(QS Maryam: 94)
58
Al Mubdi
Maha Memulai
(QS AI Buruj: 13)
59
Al Mu'id
Maha Mengembalikan
(QS Ar Rum: 27)
60
Al Muhyi
Maha Menghidupkan
(QS Ar Rum: 50)
61
Al Mumit
Maha Mematikan
(QS Al Mu'min: 68)
62
Al Hayy
Maha hidup
(QS Taha: 111)
63
Al Qayyum
Maha mandiri
(QS Taha: 11)
64
Al Wajid
Maha Menemukan
(QS Ad Duha: 6-8)
65
Al Majid
Maha Mulia
(QS hud: 73)
66
Al Ahad
Maha Esa
(QS Al lkhlas: 1)
67
Al Wahid
Maha Tunggal
(QS Al Baqarah: 133)
68
As Samad
Maha Dibutuhkan
(QS Al Ikhlas: 2)
69
Al Qadir
Maha kuat
(QS Al Baqarah: 20)
70
Al Muqtadir
Maha Berkuasa
(QS Al Qamar: 42)
71
Al Mugaddim
Maha Mendahulukan
(QS Qaf: 28)
72
Al Mu'akhkhir
Maha Mengakhirkan
(QS Ibrahim: 42)
73
Al Awwal
Maha Permulaan
(QS Al Hadid: 3)
74
Al Akhir
Maha akhir
(QS Al Hadid: 3)
75
Az Zahir
Maha nyata
(QS Al Hadid: 3)
76
Al Batin
Maha gaib
(QS Al Hadid: 3)
77
Al Wali
Maha Memerintah
(QS Ar Ra'd: 11)
78
Al Muta'ali
Maha tinggi
(QS Ar Ra'd: 9)
79
Al Barr
Maha dermawan
(QS At Tur: 28)
80
At Tawwab
Maha Penerima Tobat
(QS An Nisa: 16)
81
AI Muntagim
Maha Penyiksa
(QS As Sajadah: 22)
82
Al 'Afuww
Maha Pemaaf
(QS An Nisa: 99)
83
Ar Rauf
Maha Pengasih
(QS Al Baqarah: 207)
84
Malik Al Mulk
Maha Penguasa Kerajaan
(QS Ali Imran: 26)
85
Zul Jalal wa Al Ikram
Maha Pemilik Keagungan dan Kemuliaan
(QS Ar Rahman: 27)
86
Al Mugsit
Maha adil
(QS An Nur: 47)
87
Al Jami'
Maha Pengumpul
(QS Saba: 26)
88
Al Ganiyy
Maha kaya
(QS Al Baqarah: 267)
89
Al Mugni
Maha Mencukupi
(QS An Najm: 48)
90
Al Mani'
Maha Mencegah
(HR At Turmuzi)
91
Ad Darr
Maha Pemberi Derita
(QS Al An'am: 17)
92
An Nafi'
Maha Pemberi Keman-faatan
(QS Al Fath: 11)
93
An Nur
Maha Bercahaya
(QS An Nu 35)
94
Al Hadi
Maha Pemberi Petunjuk
(QS Al Hajj: 54)
95
Al Badi'
Maha Pencipta
(QS AI Baqarah: 117)
96
Al Baqi
Maha kekal
(QS Taha: 73)
97
Al Waris
Maha Mewarisi
(QS Al Hijr: 23)
98
Ar Rasyid
Maha pandai
(QS Al Jin: 10)
99
As Sabur
Maha sabar
(HR At Turmuzi)

2. Pengertian Al-Jami’
Asma Allah Al-Jami’ berasal dari kata jama’a yang berarti mengumpulkan segala sesuatu yang tersebar. Berdasarkan arti tersebut, Allah SWT yang mempunyai asma Al-Jami’ yang berarti Maha Mengumpulkan mempunyai kemampuan untuk mengumpulkan segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Kemampuan Allah SWT tersebut tentu tidak terbatas sehingga Allah mampu mengumpulkan segala sesuatu baik yang serupa maupun yang berbeda, yang nyata maupun yang ghaib, yang terjangkau oleh manusia maupun yang tidak bisa dijangkau oleh manusia, dan lain sebagainya.
Kemampuan Allah SWT untuk mengumpulkan segala sesuatu tersebut menandakan bahwa Allah adalah Dzat yang sangat luar biasa, yang tidak ada tandingannya di dunia ini. Ini merupakan salah satu bukti bahwa kekuasaan Allah SWT adalah mutlak. Karena Allah mempunyai asma Al-Jami’, isi alam semesta ini yang berupa ruang angkasa, galaksi, gugusan bintang, bumi, lautan, tumbuhan, hewan, manusia, dan makhluk lainnya dapat terkumpul dengan tertib dan rapi. Benda-benda di langit dan di bumi mampu terkumpul dan beredar sesuai dengan tugasnya masing-masing atas perintah Allah SWT. Manusia dikelompokkan dengan suku-suku dan bangsa-bangsa tertentu, sedangkan tumbuhan dan hewan dikelompokkan dari kingdom sampai spesies tertentu. Begitu juga dengan makhluk-makhluk lain seperti jin, iblis, dan malaikat. Allah SWT yang mempunyai asma Al-Jami’ mampu mengumpulkan jin-jin, para iblis, dan para malaikat sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Dia juga mampu mengumpulkan tulang, urat, keringat, darah, otot, dan organ-organ lainnya hingga terhimpun menjadi makhluk yang sempurna seperti manusia.
Hal lain yang sangat penting yang berkaitan dengan asma Allah Al-Jami’ adalah Allah SWT akan mengumpulkan serta menghimpun segala amal ibadah, pahala, maupun dosa setiap hamba-Nya. Allah SWT juga akan mengumpulkan seluruh umat manusia di hari kiamat untuk dimintai pertanggungjawaban atas hidupnya selama di dunia. Kekuasaan Allah SWT untuk mengumpulkan manusia di hari akhir ini berarti juga bahwa Allah SWT sangat mampu mengumpulkan bagian-bagian tubuh manusia sesudah ia bercerai-berai, dan Allah pula lah yang akan membangkitkan mereka, kembali, serta menghimpun mereka di padang mahsyar. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Q.S. Saba’ (34) ayat 26 sebagai berikut. Artinya: Katakanlah: “Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia-lah Maha pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui”. (Q.S. Saba’ (34) : 26)  Allah SWT juga berfirman dalam Q.S. Ali ‘Imran (3) ayat 9 yang berbunyi : “Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya”. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” (Q.S. Ali ‘Imran (3) : 9)

3. Pengertian Al-Adl (Maha Adil)
Asmaul Husna Al-Adl berarti Maha Adil. Keadilan Allah SWT bersifat mutlak, tidak dipengaruhi apapun dan siapapun. Allah Mahaadil karena Allah selalu menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya, sesuai dengan keadilan-Nya yang Maha Sempurna. Dia bersih dari sifat aniaya, baik dalam hukum-Nya maupun dalam perbuatan-Nya. Di antara hukum-Nya mengenai hak hamba-hamba-Nya adalah bahwa tidak ada bagi manusia itu kecuali apa yang ia usahakan, dan hasil dari segala usahanya itu akan dilihatnya. Secara normal, orang-orang yang saleh akan ditempatkan di surga yang penuh dengan kenikmatan, sedangkan orang-orang yang mengabaikan perintah Allah akan dimasukkan ke dalam neraka yang penuh dengan penderitaan.
Keadilan Allah SWT juga didasari dengan ilmu Allah SWT yang Maha Luas, sehingga tidak mungkin keputusan Allah SWT itu salah. Walaupun kalau dilihat dari sudut pandang manusia hal itu rasanya kurang adil, namun bila dipahami, direnungkan, dan dihayati dengan penuh rasa iman dan takwa, maka apa yang diputuskan Allah itu merupakan keputusan yang sangat adil. Jadi, seorang yang adl adalah berjalan lurus dan sikapnya selalu menggunakan ukuran yang sama, bukan ukuran yang ganda. Dari sinilah kita mengetahui bahwa orang yang adil tidak berpihak kepada salah seorang yang berselisih, dan seorang yang adil selalu berpihak kepada yang benar, karena baik yang benar maupun yang salah sama-sama harus memperoleh haknya. Maka orang yang adil akan melakukan sesuatu yang patut, tidak sewenang-wenang dan berusaha memutuskan perkara secara adil sesuai hukum yang berlaku, tidak memihak kepada siapapun dalam memutuskan suatu perkara, membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Fushshilat (41) ayat 46: Artinya :“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu Menganiaya hamba-hambaNya.” (QS. Fushshilat (41) : 46)

4. Pengetian Al-Aakhir
Asma Allah Al-Akhir berarti Dzat Yang Maha Akhir. Maha Akhir disini dapat diartikan bahwa Allah SWT adalah Dzat yang paling kekal. Tidak ada sesuatu pun setelah-Nya. Tatkala semua makhluk, bumi seisinya hancur lebur, Allah SWT tetap ada dan kekal. Pemahaman tentang Allah SWT sebagai Dzat Yang Maha Akhir ini tidak bisa disamakan dengan pengertian bahwa Allah adalah akhir dari segala-galanya. Inilah yang membedakan antara Allah SWT sebagai Sang Khalik (Sang Pencipta) dengan makhluk (yang diciptakan). Makhluk mempunyai awal yang berupa penciptaannya dan mempunyai akhir pada saat dia sudah hancur atau mati. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Q.S. Ar-Rahman (55): 26-27 sebagai berikut. Artinya: “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Q.S. Ar-Rahman (55): 26-27)
Sebagai Dzat Yang Maha Akhir, Allah SWT akan tetap abadi dan kekal. Keabadian dan kekekalan Allah SWT tersebut menunjukkan bahwa Dialah satu-satunya tempat bergantung atas segala urusan kita, baik urusan di dunia maupun urusan-urusan yang akan kita bawa sampai ke akhirat kelak. Sungguh sangat merugi orang-orang yang menggantungkan hidupnya pada selain Allah. Karena sesungguhnya setiap yang ada di langit dan bumi ini akan hancur. Akan tetapi jika kita bersandar penuh pada Sang Maha Kekal, pastinya kita tidak akan hancur dan terjerumus dalam kesesatan. Karena sandaran kita tidak akan pernah hancur dan Maha Mengatur segala hal yang terjadi pada hidup kita. Dialah tujuan dan tempat bergantung yang paling utama atas segala urusan makhluk-Nya, baik berupa ibadah, harapan, rasa takut, harapan, keinginan, dan lain-lain. Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Hadid (57) ayat 3: Artinya: Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. Al-Hadid (57) : 3)
Orang yang mengakui bahwa Allah adalah Al-Akhir akan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup yang tiada tujuan hidup selain-Nya, tidak ada permintaan kepada selain-Nya, dan segala kesudahan tertuju hanya kepada-Nya. Oleh karena itu, jadikanlah akhir kesudahan kita hanya kepada Allah SWT. Karena sesungguhnya akhir kesudahan hanya kepada Rabb kita, seluruh sebab dan tujuan jalan akan berujung kepada Allah semata.

B. Perilaku Terpuji
Perilaku terpuji adalah segala sikap, ucapan dan perbuatan yang baik sesuai ajaran Islam. Kendatipun manusia menilai baik, namun apabila tidak sesuai dengan ajaran Islam, maka hal itu tetap tidak baik. Sebailiknya, walaupun manusia menilai kurang baik, apabila Islammeyatakan baik, maka hal itu tetap baik. Kita sebagai umatnya tentunya ingin dapat mengikuti apa yang terjadi tuntutan rasulullah dalam kehidupan sehari-hari sebagai suritauladan manusia. Orang yang baik akhlaknya tentunya didalam pergaulan sehari-hari akan senantiasa dicintai oleh sesama, dan tentunya mereka kelak dihari kiamat akan masuk surga bersama dengan nabi saw. Sebagaimana beliau bersabda dalam hadisnya yang artinya sebagai berikut: “Sesungguhnya (orang) yang paling aku cintai diantara kalian dan orang yang paling dekat tempatnya dariku pada hari kiamat adalah oarang yang paling baik budi pekertinya diantara kalian”.
Harta yang banyak, pangkat yang tinggi atau dimilikinya beberapa gelar kesarjanaan tak mampu mengangkat derajat manusia tanpa dimilikinya akhlak terpuji. Islam hadir dimuka bumi sebenarnya sangat mengedepankan akhlak terpuji, karena Rasulullah saw. Sendiri diutus untuk menyempurnakan akhlak sebagaimana sabdanya sebagai berikut: اِنَّماَ بُعِثْتُ لِؤُتَمِّمَ مَكَأرِمَ اْلأَخْلاَقْ . Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak”.
Alangkah indahnya ajaran Islam yang memerintahkan untuk berakhlakul karimah. Jika hidup kita dihiasi dengan ahklak terpuji tentunya akan dicintai oleh Allah awt dan masyarakatnya akan menjadi baik, temteram dan damai. Sebagian manusia, berbicara tentang akhlak terpuji dalam era globalisassi seperti ini dinilai kuno dan kurang maju. Anggapan ini muncul karena sedah terpengaruh budaya barat yang dinilai maju dan modern. Akhlak terpuji amat penting dalam kehidupan manusia, termasuk dalam pergaulan remaja.

BAB III. Pembahasan
A. Perilaku Terpuji Asmaul Husna “Al-Jami’” siswa 
Silaturrahim
Sebagai bentuk pemahaman dari nama Allah Al Jami yang berarti Allah Maha Mengumpulkan mempunyai kemampuan untuk mengumpulkan segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi seperti Manusia dikelompokkan dalam suku-suku dan bangsa-bangsa tertentu, maka Silahturahmi adalah cara menjaga bentuk dari asma Allah Al-Jami.  Istilah silaturrahim tersusun dari kata sillah (menyambung) dan rahimi (tali persaudaraan). Adapun maksudnya adalah usaha untuk menyambung, mengikat, dan menjalin kasih sayang atau tali persaudaraan antara sesama manusia, terutama dangan sanak keluarga (kerabat). Manusia pertama di alam semeata ini adalah Nabi Adam As dan Siti Hawa. Untuk itu semua manusia di muka bumi ini pada hakekatnya adalah saudara.
Perilaku Silaturrahim telah diterapkan oleh siswa-siswa di sekolah dalam bentuk masa orientasi siswa, dengan siswa baru mengumpulkan tanda tangan kakak kelasnya mereka telah menjalin silahturahim. Bentuk aplikasi lainnya adalah kelompok belajar siswa baik saat sekolah maupun usai sekolah. Dengan belajar kelompok dirumah salah satu anggota artinya tanpa disadari mereka telah menjaga hubungan baik antar anggota kelompok dan keluarga dari anggota kelompok. Masih banyak lagi bentuk-bentuk silahturahmi yang telah siswa terapkan. Dengan menjaga silahturahmi antara siswa dengan siswa, siswa dan guru, serta siswa dan orang tua maka meraka talah menjaga keutuhan dari kekuasaan Allah SWT atas Asma Al-Jami’. Maka dari itu kita sebagai umat islam, marilah kita jalin silaturrahim agar terciptanya tali persaudaraan antar sesama muslim.

B. Perilaku Terpuji Asmaul Husna “Al-Adl” siswa 
Secara umum adil adalah menempatkan sesuatu sesuai dengan haknya atau semestinya dengan tidak melanggar hak dan kewajiban lainya. Dalam bahasa yang lain Adil adalah memutuskan perkara sesuai dengan ketentuan Allah Ta’ala dalam al-Quran dan ketentuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam as-Sunnah, bukan hanya sekedar bergantung kepada akal manusia semata. Adil dapat diartikan sebagai perbuatan yang sesuai dengan orma-norma atau aturan-aturan yang berlaku. Contohnya, kalau datang terlambat untuk membeli tiket misalnya, maka tidak lazim untuk langsung menerobos ke depan, hendaknya menempati posisi di belakang, lalu mengikuti antrian untuk sampai ke loket. Secara umumnya sesuai aqidah keadilan sebagai berikut:
  • Yang pertama Adil terhadap Allah Ta’ala, yaitu dengan tidak berbuat syirik dalam beribadah kepadaNya, mengimani nama-namaNya dan sifat-sifat-Nya, menaatiNya dan tidak bermaksiat kepadaNya, senantiasa berdzikir dan tidak melupakanNya serta mensyukuri nikmat-nikmatNya dan tidak mengingkarinya.
  • Yang kedua Adil terhadap sesama manusia, yaitu dengan memberikan hak-hak mereka dengan sempurna tanpa menzhaliminya, sesuai dengan apa yang menjadi haknya.
  • Yang ketiga Adil terhadap keluarga (anak dan istri), yaitu dengan tidak melebihkan dan mengutamakan salah seorang di antara mereka atas yang lainnya atau kepada sebagian atas sebagian yang lainnya.
  • Yang keempat Adil dalam perkataan, yaitu dengan berkata baik dan jujur tidak berdusta, berkata kasar, bersumpah palsu, mengghibah saudara seiman dan lain-lain.
  • Yang kelima Adil dalam berkeyakinan, yaitu dengan meyakini perkara-perkara yang disebutkan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih dengan keyakinan yang pasti tanpa keraguan sedikitpun dan tidak meyakini hal-hal yang tidak benar yang menyelisihi keduanya.
  • Yang keenam Adil dalam menetapkan hukum dan memutuskan perselisihan yang terjadi antara sesama manusia, yaitu dengan menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai sumber hukum dan pemutus perkara tersebut.
Perilaku terpuji siswa yang mencerminkan Asma Allah Al-Adl berupa salah satunya adalah belajar. Dengan belajar siswa telah berperilaku adil terhadap dirinya sendiri karena mendapatkan ilmu adalah hak dan kewajiban setiap orang. Belajar juga merupakan suatu kebutuhan bagi siswa itu sendiri dalam menjalani kehidupannya sehari-hari. Manusia itu sendiri terdiri dari beberapa bagian atau organ yang senantiasa harus terpenuhi haknya. Misalnya dengan tidur kita memberikan keadilan kepada mata dan orang tubuh lainnya untuk berisitirahat. Jika tidak tidur maka tubuh manusia tidak berfungsi dengan baik. Artinya Dengan belajar juga seorang siswa mampu mempertimbangkan sesuatu sesuai kemampuannya untuk memutuskan suatu perkara yang memerlukan keadilan. Cara supaya adil yaitu mempunyai iman yang kukuh dan bertakwa kepada Allah SWT, menguasai ilmu syariat dan ilmu Aqidah, melaksanakan amanah dengan penuh tanggung jawab, ikhlas dan bertakwa kepada Allah SWT, memiliki pribadi yang mulai (tidak mementingkan diri sendiri, memiliki belas kasihan, bijak/tegas dan berani mengambil resiko).

Perilaku siswa lainnya yang menunjukkan keadilan adalah menjalan ibadah sholat zuhur bersama secara berjamaah di mushalla sekolah sesuai perintah Allah SWT. Artinya para siswa telah belajar berlaku adil kepada pencipta-Nya. Contoh perilaku lainnya adalah siswa yang menjadi seorang ketua kelas, keputusan yang diambil sangat penting jika terjadi perkelahian antar teman di dalam kelas serta keadilan dalam memberikan informasi kepada siswa lainnya.

C. Perilaku Terpuji Asmaul Husna “Al-Aakhir” siswa 
Sebagai Dzat Yang Maha Akhir, Allah SWT akan tetap abadi dan kekal. Keabadian dan kekekalan Allah SWT tersebut menunjukkan bahwa Dialah satu-satunya tempat bergantung atas segala urusan kita, baik urusan di dunia maupun urusan-urusan yang akan kita bawa sampai ke akhirat kelak. Aplikasi dari Asma Al-Aakhir dalam pebelajaran adalah berdoa sebelum dan setelah pembelajaran di kelas. Siswa menunjukkan penyerahan diri kepada Allah SWT bahwa mereka akan belajar dengan sungguh-sungguh dan mengharapkan sebuah kemudahan dalam menyerap pengetahuan dari pembelajaran kepada Allah SWT. Selalu mengucapkan basmallah juga menunjukkan bahwa siswa-siswa menggantungkan doa agar aktivitas mereka selalu berada dalam lindungan Allah SWT dan berharap agar mendapatkan safaat dan manfaat dari aktivitasnya.

BAB IV. Penutup
A. Kesimpulan
Ketiga Asma Allah SWT tersebut telah diaplikasikan oleh siswa-siswa muslim terlepas dari kesadaran atau tanpa disadari. Sekolah merupakan tempat untuk membentuk ahklak atau perilaku terpuji dari siswa. Meskipun terkadang beberapa siswa masih belum menunjukkan perilaku yang kurang baik atau telah khilaf. Dengan belajar sungguh-sungguh, melaksanakan ataupun belajar beribadah, mengucapkan bismillah saat memulai aktivitas, membaca doa sebelum dan setelah pembelajaran, berbuat keadilan serta menjalin silahturahmi adalah bentuk siswa-siswa dalam mengamalkan Asma Allah SWT.

B. Saran
Saran kami dalam makalah ini adalah agar kita senantiasa melakukan hal terpuji lainnya baik di sekolah, keluarga maupun di masyarakat. Kemudian membiasakan diri untuk mengamalkan hasil pembelajaran dengan baik dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber:
Buku PAI SMA

http://kutbi.files.wordpress.com/2013/07/materi-pai-kelas-x-smk-kurikulum-2013.doc
Poskan Komentar